| Bank Muamalat Butuh Modal Rp 1,4 Triliun |
| Date : Mar 8, 2007 / 9:09:32 |
|
JAKARTA -- Bank Muamalat Indonesia (BMI) membutuhkan penambahan modal hingga Rp 1,4 triliun guna mendukung realisasi pencapaian target pangsa perbankan syariah 5,25 persen pada 2008, Hingga akhir Februari lalu, modal disetor (paid up capital) BMI tercatat sebesar Rp 1 triliun. Hingga akhir 2008, aset BMI juga diproyeksi mencapai Rp 34 triliun.
''Untuk mendukung target 5 persen, Muamalat membutuhkan tambahan modal sebanyak Rp 1,4 triliun hingga 2008,'' kata Direktur Utama BMI, Ahmad Riawan Amin Senin, (5/3). Modal disetor BMI saat ini sebetulnya masih cukup. Hal tersebut berdasarkan ketentuan Bank Indonesia (BI) mengenai modal bank umum syariah (BUS). Namun, jumlah modal tersebut perlu ditambah untuk mendukung pencapaian target akselerasi pangsa perbankan syariah pada 2008.
Riawan menyebutkan, dari total kebutuhan penambahan modal tersebut, sebanyak Rp 200 miliar kemungkinan dihimpun melalui penerbitan saham terbatas (right issue) tahun ini. Sedangkan, sisanya akan dihimpun tahun depan dengan menggunakan mekanisme serupa atau mekanisme lainnya. Rencananya, BMI akan mengajukan rencana penawaran saham terbatas dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) bank syariah tersebut pada April mendatang. ''Jadi, nanti kita akan lihat bagaimana kebijakan dari pemegang saham April nanti,'' katanya.
Menanggapi rencana penambahan modal tersebut, Ketua Umum Asosiasi Bank Islam Indonesia (Asbisindo), Wahyu Dwi Agung menyambut positif. Penambahan modal hingga Rp 1,4 triliun akan menjadikan modal disetor BMI sebesar Rp 2,4 triliun pada 2008. Dengan demikian, maka proyeksi aset BMI sebesar Rp 34 triliun dapat terealisasi. ''Saya kira dengan penambahan modal tersebut, proyeksi aset Rp 34 triliun dapat tercapai,'' katanya.
Wahyu juga meyakini rencana peningkatan modal disetor BMI akan memberikan kontribusi signifikan bagi pencapaian target pangsa psar 5 persen pada 2008. Sebabnya, untuk mencapai target pangsa tersebut, perbankan syariah perlu tumbu secara anorganik. Salah satunya adalah dengan meningkatkan modal perbankan syariah. ''Kalau dengan pertumbuhan organik, saya kira tidak bisa mencapai target pangsa 5 persen,'' katanya.
Mengenai kinerja, Riawan menyebutkan, aset BMI per Februari 2007 meningkat 20,08 persen menjadi Rp 8,48 triliun dari aset bank syariah tersebut per Februari 2006, Rp 7,07 triliun. Sedangkan, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) meningkat 24,63 persen menjadi Rp 6,78 triliun per Februari 2007 dari Rp 5,44 triliun per Februari 2006. Sementara, pembiayaan tercatat meningkat 8,39 persen menjadi Rp 6,46 triliun per Februari 2007 dari Rp 5,96 triliun per Februari 2006.
Hingga akhir Februari lalu, BMI telah mencetak laba bersih sebesar Rp 48,66 miliar. Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan 53,84 persen dibandingkan perolehan laba bersih bank syariah tersebut pada periode sama tahun lalu sebesar Rp 31,63 miliar. Rasio biaya operasional terhadap biaya operasional (BOPO) tercatat menurun menjadi 75,46 persen per Februari 2007 dari 80,61 persen per Februari 2006.
Berdasarkan data publikasi BI, aset perbankan syariah per Januari lalu meningkat menjadi Rp 26,949 triliun dari aset per Januari 2006 Rp 20,585 triliun. Sedangkan, DPK perbankan syariah per Januari lalu tercatat meningkat menjadi Rp 20,514 triliun dari DPK per Januari 2006 Rp 15,135 triliun. Sektor pembiayaan per Januari lalu meningkat menjadi Rp 20,219 triliun dari pembiayaan per Januari 2006 Rp 15,135 triliun.
(Sumber : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=285134&kat_id=256) |
|
|
|
|